Menu

Ketua BEM Fakultas Pertanian Unikarta Soroti Krisis Sampah Plastik di Sungai Mahakam

Senin, 26 Januari 2026 19

Ketua BEM Fakultas Pertanian Unikarta Soroti Krisis Sampah Plastik di Sungai Mahakam

Ketua BEM Fakultas Pertanian, Muhammad Wirya

Penulis: Deny | Editor: Val

Tenggarong, 25/01/2026 - Pencemaran Sungai Mahakam akibat sampah rumah tangga dan limbah terus menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Tekanan  yang di akibatkan sampah plastik membuat kondisi Sungai Mahakam semakin memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian, Muhammad Wirya, menilai bahwa tingginya polusi plastik di Sungai Mahakam bukan lagi persoalan sepele atau bersifat lokal semata, melainkan bagian dari krisis lingkungan yang lebih luas.

“Sungai Mahakam saat ini berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Sampah plastik mendominasi pencemaran dan berdampak langsung pada kualitas air, kesehatan masyarakat, serta kelangsungan biota sungai,” ujar Muhammad Wirya saat diwawancarai , Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, pencemaran yang terus dibiarkan berpotensi memicu berbagai masalah serius, mulai dari rusaknya habitat ikan, meningkatnya risiko banjir akibat tersumbatnya aliran air, hingga ancaman kesehatan bagi masyarakat yang bergantung pada Sungai Mahakam untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan sampah serta minimnya penegakan aturan lingkungan yang ada. Ia menekankan bahwa pemerintah harus hadir dengan langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Perlu ada perbaikan serius dalam sistem pengelolaan sampah, pengawasan terhadap pembuangan limbah, serta edukasi publik yang berkelanjutan. Sungai Mahakam bukan tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

Tingginya volume sampah plastik yang mengapung di permukaan sungai maupun mengendap di dasar perairan menjadi indikator lemahnya pengelolaan sampah di wilayah sekitar sungai.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian Sungai Mahakam. Menurutnya, kesadaran kolektif harus dibangun sejak dini, terutama di kalangan generasi muda, agar budaya membuang sampah sembarangan dapat dihentikan dan digantikan dengan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

“Jika pencemaran ini terus dibiarkan, maka krisis ekologis hanya tinggal menunggu waktu. Sungai Mahakam harus diselamatkan sekarang, bukan nanti,” tutupnya.