Menu

Pokdakan Loa Raya Hadapi Tekanan Biaya, Abon Ikan Jadi Harapan Baru

Senin, 28 April 2025 116

Pokdakan Loa Raya Hadapi Tekanan Biaya, Abon Ikan Jadi Harapan Baru

Pokdakan Loa Raya Hadapi Tekanan Biaya, Abon Ikan Jadi Harapan Baru

Penulis: Jati | Editor: Zqr

TENGGARONG — Kenaikan harga pakan ikan menjadi tantangan utama yang membelit para pelaku budidaya ikan di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang. Sebanyak 15 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) yang aktif di wilayah ini mulai merasakan beban berat akibat tingginya ongkos operasional.

 

Kepala Desa Loa Raya, Martin, menjelaskan bahwa harga pakan terus naik dari tahun ke tahun. Kondisi ini tidak seimbang dengan harga jual ikan di pasaran yang justru cenderung fluktuatif, bahkan kadang anjlok saat panen raya.

 

“Harga pakan itu bisa menyedot separuh biaya produksi. Kalau harga ikan rendah, petani rugi besar. Ini yang jadi masalah pokok,” ujar Martin.

 

Selain soal pakan, tantangan lainnya adalah ukuran ikan hasil panen. Banyak hasil panen berukuran besar yang tidak laku di pasar lokal karena konsumen lebih memilih ikan kecil yang lebih praktis.

 

“Kalau panennya besar-besar, susah dijual. Tengkulak pun pilih-pilih,” katanya.

 

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Desa Loa Raya mulai mengembangkan alternatif usaha melalui program pengolahan ikan. Ibu-ibu PKK diberdayakan untuk memproduksi abon ikan dari hasil panen yang tidak terserap pasar.

 

“Kita latih ibu-ibu untuk olah ikan jadi abon. Kita juga bantu alat produksi seperti mesin pengering dan alat pengaduk,” jelasnya.

 

Produk abon ini sudah mulai dipasarkan secara terbatas di lingkungan sekitar desa. Martin menambahkan bahwa pihaknya tengah mengupayakan sertifikasi halal dan kemasan yang menarik agar bisa bersaing di pasar lebih luas.

 

“Kami ingin produk ini masuk toko oleh-oleh, minimarket, bahkan dijual online. Potensinya besar,” tambahnya.

 

Selain meningkatkan nilai jual, strategi ini diharapkan mengurangi ketergantungan petani pada tengkulak. Martin juga menyebut bahwa rencana jangka panjangnya adalah membentuk koperasi khusus pengolahan dan pemasaran produk ikan.

 

“Kalau bisa kelola dari hulu ke hilir, petani akan lebih sejahtera,” pungkas Martin.